Senin, 14 November 2016

Perpisahan bukan akhir segalanya *broken home * wajib baca

Hai..
Teman-teman mungkin salah satu dari kita ada yang tidak beruntung.,.
kenapa saya bilang tidak beruntung, ya karena tidak bisa hidup bersama kedua orang tuanya karena alasan orangtuanya telah bercerai. tapi kita tidak boleh berkecil hati karna hal itu, mungkin satu atau dua alasan yang memaksa orang tua kita mengakhiri hubungannya. kita jangan menyudutkan orang tua kita karena kita tidak seperti keluarga lain bisa berkumpul dengan kedua orangtua kita, kalian tahu betapa sulitnya mereka ketika harus memutuskan untuk berpisah dari sandaran hidupnya, namun hal itu harus mereka lakukan entah karena perbedaan pandangan hidup atau alasan lainnya.
Lalu kita datang dengan berbagai hal yang seharusnya tak kita lakukan, kita menjadi pribadi yang berontak dan ujung-ujungnya kita berkata "ini akibat korban broken home". Apakah kalian sadar, itu sangat menyakitkan bagi orang tua kita, mereka seperti pribahasa "sudah jatuh tertimpa tangga pula", mereka berpisah dari orang yang selama ini hidup dengannya dan harus menyaksikan anaknya jadi pemberontak. Teman-teman broken home bukan akhir segalanya, banyak teman-teman kita yang broken home tapi mereka mampu sukses menggapai cita-citanya, membahagiakan orang tuanya.
Untuk teman-teman yang mungkin keluarganya "broken home" itu justru jadi acuan buat kita, kita bisa sukses hanya dibesarkan oleh single mother atau sebaliknya. Bukan itu saja, hal tersebut pun bisa kita buat sebagai motivasi dalam kita membangun rumah tangga kelak agar broken home tidak terulang pada keluarga kita nanti.

yang mau sharing email: lelalisnawati38@gmail.com

Cerita Romantis



*AKU PIKIR*
Jam dingding di kamar ku masih berputar, jarum panjangnya terus berputar melingkari sudut-sudut jam, Aku masih termenung dalam kesendirianku, kegelisahan itu terus menghampiriku seseolah ia tak mau beranjak pergi meski malam semakin larut dan orang-orang di sekitarku telah terjaga, namun risau hati tak mau pergi, apalah daya aku hanya bisa ikut terbuai dalam kegelisahan yang kian menyatu dengan pikiranku. 
besok adalah hari kenaikan kelas sekaligus hari perpisahan dan pelepasan kelas tiga disekolahku, namaku Khairani Khalifatul Ziya kelas 2 SMAN 3 Bandung, kegelisaanku bukan karena aku takut tidak naik kelas namun aku takut menanti hari esok, hari esok yang akan memisahkan aku dengan kak Raffi sahabatku sekaligus tetangga terbaikku, Muhammad Raffi Nizam Kelas 3 SMAN 3 Bandung, yah itu nama lengkap kak Raffi.
Kak Raffi berniat melanjutkan Studi nya di Universitas Gajah Mada Yogyakarta Fakultas Kedokteran, Jarak yang cukup jauh antara Bandung dan Yogyakarta. Tak terasa jam dingding yang sejak tadi berputar pun menunjukan pukul 01.00 WIB, mataku pun mulai memaksa aku untuk segera terlelap, Ku tarik selimutku yang selalu menemani malam-malam dinginku, aku pun terlelap dalam buaian malam yang semakin larut.
Pukul 04.30 WIB Adzan subuhpun berkumandang, akupun masih susah untuk membuka mataku, tiba –tiba diluar pintu terdengar suara lembut “ Zi, bangun shalat subuh dulu nak” itu suara Ibuku, ibu terbaik di seluruh dunia.  ya ibu dan teman-temanku biasa memanggilku dengan sebutan Ziya. Di rumah ini Aku hanya tinggal dengan ibu, Ayah sudah terlebih dahulu di panggil oleh Sang Maha Kuasa ketika aku kelas 2 SMP. “iya bu ziya udah bangun ko” jawabku masih dengan mata yang susah dibuka, akupun beranjak dari tempat tidurku dan membuka pintu kamar ku, bidadari surga itu masih ada di depan pintu kamarku, “ ayo cepat ambil wudhu lalu shalat ya”, kata ibu. Ibu pun pergi berlalu, dan aku mulai melangkahkan kaki ku ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
***

Selamat pagi bu, aku menghampiri ibu yang sedang menyiapkan sarapanku, “ayo,cepat sarapan nanti kamu terlambat, ini kan hari kenaikan kelasmu” kata ibu, “iya bu” jawabku sambil duduk menyantap sarapan yang telah ibu siapkan untukku, aku pun menghabiskannya dengan lahap. Aku dan ibu pun bergegas pergi kesekolah untuk menghadiri acara kenaikan kelasku.
Sesampainya disekola aku bertemu dengan teman-temanku Safa, nina,keiyla,marsa, dan angle, “hai, zi” kata mereka serempak, “hai, teman-teman” jawabku, “hai tante” kata angel sambil bersalaman dengan ibuku dan di ikuti oleh safa, marsa,dan juga keiyla yang menyalamin ibuku, ibukupun tersenyum dan bergegas bergabung dengan ibu-ibu yang lain.
Kami pun duduk ditempat yang telah disediakan untuk para murid, “ Assalamualaikum” ucap suara yang taka sing di telingaku, “ Waalaikum salam” jawab kami serempak, akupun menoleh kearah suara dan ternyata itu suara kak Raffi “Hai Ziya, Keiyla, Masha, Safa, Angel, Nina”, “hai juga kak Raffi” jawab kami berbarengan. “Oh ya boleh kakak pinjam ziyanya sebentar” kata kak Raffi meminta izin kepada teman-temanku untuk berbicara denganku sebentar. “Boleh kak” jawab Keiyla.
“Ziya, Kakak mau pamitan sama kamu kakak jadi kuliah di yogyakarta, maafin kakak kalu punya salah sama Ziya ya” Kata ka Raffi, “Iya kak, kakak hati-hati disana jaga diri kakak baik-baik, jangan tinggalkan shalat lima waktunya ya kak, dan makasih banyak atas waktu kakak yang selalu mengajarkan Ziya ketika Ziya tak tahu tentang pelajaran, menjadi tempat bertanya yang selalu sabar menjawab pertanyaan- pertanyaan ziya, makasih kak sudah mau menjadi sahabat Ziya dan menjadi tetangga terbaik Ziya selama 17 tahun, “ Iya Sama-sama zi” jawab kak Raffi kalem. Aku pun meninggalkan kak Raffi yang masih berdiri.
***
Acara pembagian Rapor pun selesai aku dan ibu bergegas pulang, sesampainya di rumah Aku membuka nilai raporku, ternyata aku peringkat 2 dan naik ke kelas tiga, Besok adalah hari keberangkatan kak Raffi ke Yogyakarta, sore ini ada acara syukuran di rumah kak Raffi, syukuran Kak Raffi di terima di Universitas Gajah Mada, Aku dan Ibu pun di undang ke syukuran tersebut.
Rumah Kak Raffi pun terlihat ramai di datangi oleh para tetangga yang di undang ke acara syukuran keluarga kak Raffi, Suasana dirumah kak Raffi terlihat jelas maklum rumahku dengan kak Raffi hanya berjarak 5 M, dan saling berhadapan.
“Bu, ayo kita berangkat acaranya sebentar lagi dimulai”, kataku memanggil ibu yang masih di dalam, “ iya, ayo ibu sudah siap ko,” jawab ibu sambil mengunci pintu rumah kami, rumah yang sederhana namun menyimpan sejuta kenangan, rumah yang terlihat kuno bahkan sebagian dingdingnya sudah di tumbuhi lumut-lumut hijau, ibu suka dengan rumah ini, ibu hanya memperbaiki beberapa bagian rumah yang sudah rusak saja tanpa merubah sedikitpun tatananya.
Kamipun sampai dirumah kak Raffi, terlihat ibu kak Raffi duduk di tengah-tengah tamu undangan, dia terlihat sedih, mungkin dia sedih karna harus melepaskan kak Raffi keluar kota, maklum kak Raffi adalah anak bungsu dari 3 bersaudara, Kak Tika kakaknya kak Raffi yang nomor satu telah menikah dan tinggal dengan suaminya di Menado, begitupun dengan Kak Meli kakak yang nomor dua dia tinggal di Makasar dengan suaminya.
Mungkin itu yang menyebabkan ibu kak Raffi sedih, sedih untuk melepaskan anaknya kesekian kali, terlihat pula kak Raffi duduk di samping ayahnya, wajahnya terlihat sumeringah namun ada guratan- guratan sedih, mungkin kak Raffi juga sedih harus meninggalkan keluarganya.
***
Pukul 07.00 WIB, ini hari keberangkatan kak Raffi ke Jakarta, Aku dan ibu pun ikut mengantarkan kak Raffi stasiun maklum keluarga kami bertetangga sudah 17 tahun kami sudah seperti keluarga, “fi, mamah sayang affi jaga diri affi baik-baik,jangan tinggalkan shalat lima waktu ya nak” kata mamah kak Raffi sambil memeluk kak Raffi,”iya mah, affi sayang mamah juga, mamah baik-baik di rumah yah,setiap libur kuliah affi pasti pulang ko mah” jawab kak Raffi menenangkan ibunya.”fi, papah yakin kamu jagoan papah,kamu mampu jaga diri kamu dengan baik nak” kata ayah kak Raffi menepuk pundaknya kak Raffi, “iya pah,jaga mamah pah,Raffi sayang mamah sama papah”. Jawab kak Raffi. “ Raffi pergi dulu bu Mirna” kata kak Raffi sambil bersalaman ke ibuku, ya nama Ibuku Mirna Isnawati,”iya nak Raffi jaga diri baik-baik ya disana” jawab ibuku mengelus kepala Kak Raffi, “hai zi, belajar yang rajin lagi biar jadi juara kelas, masa jadi juara ke 2 terus sih” kata kak Raffi, “iya”, jawabku agak kesal, “hati-hati ya kak” timpalku menambahkan. Kak Raffi pun menaiki Kereta Api jurusan Bandung- Yogyakarta. Dia pun melambaikan tangannya ke arah kami, kami pun membalas lambaian tangannya.
Kereta pun melaju perlahan demi perlahan, ku pandangi kereta itu sampai tak terlihat lagi dari ujung pandanganku, ada rasa nyesek di dadaku, mungkin ini perasaan sementara karna ku baru saja kehilangan sosok kakak di hidupku,maklum aku hanya anak tunggal di keluargaku, kehadiran kak Raffi seperti kakak bagiku, kadang dia jadi inspirasiku karna kecerdasaannya,kadang ia jadi sosok yang menyebalkan dengan nasihat- nasihanya yang terkadang terdengar ketus di telingaku.kini sosok itu menghilang dari hidupku,padahal aku yakin dia akan kembali lagi, entah aku yang terlalu dramatis akan kepergian kak Raffi, padahal ia akan pulang dan mengunjungi kami ketika ia libur kuliah.

***
Setahu berlalu, Ini liburan pertama yang ku habiskan tanpa kak Raffi biasanya kami selalu main bareng bila menjelang hari libur, aku termenung memandangi danau tempat aku memancing dengan kak Raffi, aku Menorehkan tinta dibuku mickey mouse berwarna fink,ini buku coretan hatiku yang baru.
04 Mei 2013 16.30 WIB
Air itu masih seperti dulu riak-riak tenang,seseolah mengawasi ikan-ikan yang berenang didalamnya. semilir anginpun mulai membelai setiap dedaunan yang menempel di pohonnya tak jarang daun- daun tua pun berjatuhan. Mentari yang mulai berarak kearah barat yang menandakan senja akan tiba, sebentar lagi mentari akan tenggelam dan akan berganti dengan senja yang indah meski tak sebersinar mentari.
Senja itu tiba, tapi ada perasaan berbeda meski senja itu tetap sama, perasaan seperti langit tanpa awan, seperti danau tanpa air, seperti bunga tanpa kupu-kupu, entah perasaan apa yang timbul dalam hatiku, aku seseolah menunggu sesuatu untuk kembali seperti pagi yang selalu menunggu embun,seperti pohon yang selalu menunggu angin,seperti sore yang selalu menunggu senja.

Senja pun mulai tampak utuh aku sadar hari mulai gelap,aku pun bergegas meninggalkan danau ku langkahkan kaki ku secara perlahan menuju rumah, sesampainya di rumah,ibu terlihat sedang sibuk menyiram bunga-bunga yang sengaja di tanam di depan rumah, “eh, zi sudah pulang” sapa ibu, “iya bu” jawabku lemas,”kenapa nak” pertanyaan ibu seperti paham pada suasana hatiku,”tidak bu ziya hanya cape saja” jawabku lagi,”oh iya raffi sudah pulang tuh,tadi kesini nanyai kamu zi” kata ibu sambil terus fokus memainkan selang air. Alangkah senang hatiku ka raffi pulang.
Malam pun tiba,aku duduk-duduk santai di depan teras menunggu kedatagan ka raffi aku sudah tidak sabar untuk bercerita tentang sekolahku dan mendengar cerita darinya, tak menunggu berapa lama kak raffi datang tapi dengan sosok perempuan yang belum aku kenal “ hai zi, apa kabar?” sapa kak raffi,”hai kak, Alhamdulillah baik kak”  jawabku sambil memepersilahkan mereka duduk di bangku kayu teras rumahku,”oh ya, kenalkan ini sania” kata kak raffi,” sania” kata perempuan itu menjulurkan tangannya bersalaman denganku, akupun menyambut tanngannya “ziya” kataku memperkenalkan namaku. Pikiranku pun berkecamuk, bertanya-tanya siapa perempuan yang kak raffi bawa pulang untuk berlibur “apakah pacarnya” itu pertannyaan yang perlahan muncul di benakku. “ eh nak raffi” suara ibu yang tiba-tiba berdiri di depanku sambil menyapa kak raffi yang membuyarkan lamunanku, kak raffi pun bersalaman menyalami ibu sambil menannyakan kabarnya, sania pun ikut menyalami ibuku sambil tertawa ramah padanya, “ambilin minum dong zi tamunya” kata ibu padaku “iya bu, ya ampun ziya hampir lupa” jawabku sambil tersenyum kecil, akupun bergegas masuk kedalam rumah dan di susul langkah ibu. Kami pun ngobrol panjang lebar, sampai obrolan kami pun harus terhenti karena malam sudah sangat larut.
***
07.00 WIB pagi yang cerah, mentari seolah tersenyum menyambut pagi ini, semalam aku sudah janji sama kak raffi akan mancing bareng. Aku pun masih sibuk membantu ibu di dapur dan membereskan pekerjaan rumah ku tak terasa jam dingding dirumahku menunjukan pukul 10.00 WIB, “assalamualaikum” terdengar suara kak rafi di depan halaman rumahku “waalaikum salam “ jawabku dengan ibu berbarengan. Aku pun berangkat bertiga dengan kak raffi serta sania, sesampainya di danau kami pun mulai asik memancing, tiba –tiba ada sesuatu barang kak raffi yang ketinggalan dia pun bergegas pulang untuk mengambilnya. Aku pun ngobrol dengan sania dan sampai pada pernyataan sania kalau dia adalah kekasih kak raff.
Teryata perempuan itu pacar kak raffi, begitu rapuhnya hati mendengarnya,tapi aku menahan air mata yang berebutan memaksa jatuh dari kelopak mataku, aku mencoba tersenyum ikut bahagia.
“ternya selama ini aku salah paham sama perasaan kak raffi padaku, aku pikir dia menyayangi ku lebih dari adik, aku pikir kak raffi tidak menyatakan cinta pada ku karna menunggu sampai aku lulus sekola kemudian kuliah dan bekerja, sekarang dalam kepalaku hanya ada kata “ akupikir”.
 Bersambung...
By:
Lela Lisnawati

Juara Hafiz Indonesia dari Tahun ke Tahun

Assalamualaikum wr. Wb. Bismillah. . . Hai sahabat semua, kali ini saya mau review tentang Hafiz Indonesia yang disiarkan disalah s...