*AKU PIKIR*
Jam
dingding di kamar ku masih berputar, jarum panjangnya terus berputar melingkari
sudut-sudut jam, Aku masih termenung dalam kesendirianku, kegelisahan itu terus
menghampiriku seseolah ia tak mau beranjak pergi meski malam semakin larut dan
orang-orang di sekitarku telah terjaga, namun risau hati tak mau pergi, apalah
daya aku hanya bisa ikut terbuai dalam kegelisahan yang kian menyatu dengan
pikiranku.
besok
adalah hari kenaikan kelas sekaligus hari perpisahan dan pelepasan kelas tiga
disekolahku, namaku Khairani Khalifatul Ziya kelas 2 SMAN 3 Bandung,
kegelisaanku bukan karena aku takut tidak naik kelas namun aku takut menanti
hari esok, hari esok yang akan memisahkan aku dengan kak Raffi sahabatku
sekaligus tetangga terbaikku, Muhammad Raffi Nizam Kelas 3 SMAN 3 Bandung, yah
itu nama lengkap kak Raffi.
Kak
Raffi berniat melanjutkan Studi nya di Universitas Gajah Mada Yogyakarta
Fakultas Kedokteran, Jarak yang cukup jauh antara Bandung dan Yogyakarta. Tak
terasa jam dingding yang sejak tadi berputar pun menunjukan pukul 01.00 WIB,
mataku pun mulai memaksa aku untuk segera terlelap, Ku tarik selimutku yang
selalu menemani malam-malam dinginku, aku pun terlelap dalam buaian malam yang
semakin larut.
Pukul
04.30 WIB Adzan subuhpun berkumandang, akupun masih susah untuk membuka mataku,
tiba –tiba diluar pintu terdengar suara lembut “ Zi, bangun shalat subuh dulu
nak” itu suara Ibuku, ibu terbaik di seluruh dunia. ya ibu dan teman-temanku biasa memanggilku
dengan sebutan Ziya. Di rumah ini Aku hanya tinggal dengan ibu, Ayah sudah
terlebih dahulu di panggil oleh Sang Maha Kuasa ketika aku kelas 2 SMP. “iya bu
ziya udah bangun ko” jawabku masih dengan mata yang susah dibuka, akupun
beranjak dari tempat tidurku dan membuka pintu kamar ku, bidadari surga itu
masih ada di depan pintu kamarku, “ ayo cepat ambil wudhu lalu shalat ya”, kata
ibu. Ibu pun pergi berlalu, dan aku mulai melangkahkan kaki ku ke kamar mandi
untuk mengambil air wudhu.
***
Selamat
pagi bu, aku menghampiri ibu yang sedang menyiapkan sarapanku, “ayo,cepat
sarapan nanti kamu terlambat, ini kan hari kenaikan kelasmu” kata ibu, “iya bu”
jawabku sambil duduk menyantap sarapan yang telah ibu siapkan untukku, aku pun
menghabiskannya dengan lahap. Aku dan ibu pun bergegas pergi kesekolah untuk
menghadiri acara kenaikan kelasku.
Sesampainya
disekola aku bertemu dengan teman-temanku Safa, nina,keiyla,marsa, dan angle,
“hai, zi” kata mereka serempak, “hai, teman-teman” jawabku, “hai tante” kata
angel sambil bersalaman dengan ibuku dan di ikuti oleh safa, marsa,dan juga
keiyla yang menyalamin ibuku, ibukupun tersenyum dan bergegas bergabung dengan
ibu-ibu yang lain.
Kami
pun duduk ditempat yang telah disediakan untuk para murid, “ Assalamualaikum”
ucap suara yang taka sing di telingaku, “ Waalaikum salam” jawab kami serempak,
akupun menoleh kearah suara dan ternyata itu suara kak Raffi “Hai Ziya, Keiyla,
Masha, Safa, Angel, Nina”, “hai juga kak Raffi” jawab kami berbarengan. “Oh ya
boleh kakak pinjam ziyanya sebentar” kata kak Raffi meminta izin kepada
teman-temanku untuk berbicara denganku sebentar. “Boleh kak” jawab Keiyla.
“Ziya,
Kakak mau pamitan sama kamu kakak jadi kuliah di yogyakarta, maafin kakak kalu
punya salah sama Ziya ya” Kata ka Raffi, “Iya kak, kakak hati-hati disana jaga
diri kakak baik-baik, jangan tinggalkan shalat lima waktunya ya kak, dan
makasih banyak atas waktu kakak yang selalu mengajarkan Ziya ketika Ziya tak
tahu tentang pelajaran, menjadi tempat bertanya yang selalu sabar menjawab
pertanyaan- pertanyaan ziya, makasih kak sudah mau menjadi sahabat Ziya dan
menjadi tetangga terbaik Ziya selama 17 tahun, “ Iya Sama-sama zi” jawab kak
Raffi kalem. Aku pun meninggalkan kak Raffi yang masih berdiri.
***
Acara
pembagian Rapor pun selesai aku dan ibu bergegas pulang, sesampainya di rumah
Aku membuka nilai raporku, ternyata aku peringkat 2 dan naik ke kelas tiga,
Besok adalah hari keberangkatan kak Raffi ke Yogyakarta, sore ini ada acara
syukuran di rumah kak Raffi, syukuran Kak Raffi di terima di Universitas Gajah
Mada, Aku dan Ibu pun di undang ke syukuran tersebut.
Rumah
Kak Raffi pun terlihat ramai di datangi oleh para tetangga yang di undang ke
acara syukuran keluarga kak Raffi, Suasana dirumah kak Raffi terlihat jelas
maklum rumahku dengan kak Raffi hanya berjarak 5 M, dan saling berhadapan.
“Bu,
ayo kita berangkat acaranya sebentar lagi dimulai”, kataku memanggil ibu yang
masih di dalam, “ iya, ayo ibu sudah siap ko,” jawab ibu sambil mengunci pintu
rumah kami, rumah yang sederhana namun menyimpan sejuta kenangan, rumah yang
terlihat kuno bahkan sebagian dingdingnya sudah di tumbuhi lumut-lumut hijau,
ibu suka dengan rumah ini, ibu hanya memperbaiki beberapa bagian rumah yang
sudah rusak saja tanpa merubah sedikitpun tatananya.
Kamipun
sampai dirumah kak Raffi, terlihat ibu kak Raffi duduk di tengah-tengah tamu
undangan, dia terlihat sedih, mungkin dia sedih karna harus melepaskan kak
Raffi keluar kota, maklum kak Raffi adalah anak bungsu dari 3 bersaudara, Kak
Tika kakaknya kak Raffi yang nomor satu telah menikah dan tinggal dengan
suaminya di Menado, begitupun dengan Kak Meli kakak yang nomor dua dia tinggal
di Makasar dengan suaminya.
Mungkin
itu yang menyebabkan ibu kak Raffi sedih, sedih untuk melepaskan anaknya
kesekian kali, terlihat pula kak Raffi duduk di samping ayahnya, wajahnya
terlihat sumeringah namun ada guratan- guratan sedih, mungkin kak Raffi juga
sedih harus meninggalkan keluarganya.
***
Pukul
07.00 WIB, ini hari keberangkatan kak Raffi ke Jakarta, Aku dan ibu pun ikut mengantarkan
kak Raffi stasiun maklum keluarga kami bertetangga sudah 17 tahun kami sudah
seperti keluarga, “fi, mamah sayang affi jaga diri affi baik-baik,jangan
tinggalkan shalat lima waktu ya nak” kata mamah kak Raffi sambil memeluk kak
Raffi,”iya mah, affi sayang mamah juga, mamah baik-baik di rumah yah,setiap
libur kuliah affi pasti pulang ko mah” jawab kak Raffi menenangkan ibunya.”fi,
papah yakin kamu jagoan papah,kamu mampu jaga diri kamu dengan baik nak” kata
ayah kak Raffi menepuk pundaknya kak Raffi, “iya pah,jaga mamah pah,Raffi
sayang mamah sama papah”. Jawab kak Raffi. “ Raffi pergi dulu bu Mirna” kata
kak Raffi sambil bersalaman ke ibuku, ya nama Ibuku Mirna Isnawati,”iya nak
Raffi jaga diri baik-baik ya disana” jawab ibuku mengelus kepala Kak Raffi,
“hai zi, belajar yang rajin lagi biar jadi juara kelas, masa jadi juara ke 2
terus sih” kata kak Raffi, “iya”, jawabku agak kesal, “hati-hati ya kak”
timpalku menambahkan. Kak Raffi pun menaiki Kereta Api jurusan Bandung-
Yogyakarta. Dia pun melambaikan tangannya ke arah kami, kami pun membalas
lambaian tangannya.
Kereta
pun melaju perlahan demi perlahan, ku pandangi kereta itu sampai tak terlihat
lagi dari ujung pandanganku, ada rasa nyesek di dadaku, mungkin ini perasaan
sementara karna ku baru saja kehilangan sosok kakak di hidupku,maklum aku hanya
anak tunggal di keluargaku, kehadiran kak Raffi seperti kakak bagiku, kadang
dia jadi inspirasiku karna kecerdasaannya,kadang ia jadi sosok yang menyebalkan
dengan nasihat- nasihanya yang terkadang terdengar ketus di telingaku.kini
sosok itu menghilang dari hidupku,padahal aku yakin dia akan kembali lagi,
entah aku yang terlalu dramatis akan kepergian kak Raffi, padahal ia akan
pulang dan mengunjungi kami ketika ia libur kuliah.
***
Setahu
berlalu, Ini liburan pertama yang ku habiskan tanpa kak Raffi biasanya kami
selalu main bareng bila menjelang hari libur, aku termenung memandangi danau
tempat aku memancing dengan kak Raffi, aku Menorehkan tinta dibuku mickey mouse
berwarna fink,ini buku coretan hatiku yang baru.
04 Mei 2013 16.30
WIB
Air
itu masih seperti dulu riak-riak tenang,seseolah mengawasi ikan-ikan yang
berenang didalamnya. semilir anginpun mulai membelai setiap dedaunan yang
menempel di pohonnya tak jarang daun- daun tua pun berjatuhan. Mentari yang
mulai berarak kearah barat yang menandakan senja akan tiba, sebentar lagi
mentari akan tenggelam dan akan berganti dengan senja yang indah meski tak
sebersinar mentari.
Senja
itu tiba, tapi ada perasaan berbeda meski senja itu tetap sama, perasaan
seperti langit tanpa awan, seperti danau tanpa air, seperti bunga tanpa
kupu-kupu, entah perasaan apa yang timbul dalam hatiku, aku seseolah menunggu
sesuatu untuk kembali seperti pagi yang selalu menunggu embun,seperti pohon
yang selalu menunggu angin,seperti sore yang selalu menunggu senja.
Senja pun mulai tampak
utuh aku sadar hari mulai gelap,aku pun bergegas meninggalkan danau ku langkahkan
kaki ku secara perlahan menuju rumah, sesampainya di rumah,ibu terlihat sedang
sibuk menyiram bunga-bunga yang sengaja di tanam di depan rumah, “eh, zi sudah
pulang” sapa ibu, “iya bu” jawabku lemas,”kenapa nak” pertanyaan ibu seperti
paham pada suasana hatiku,”tidak bu ziya hanya cape saja” jawabku lagi,”oh iya
raffi sudah pulang tuh,tadi kesini nanyai kamu zi” kata ibu sambil terus fokus
memainkan selang air. Alangkah senang hatiku ka raffi pulang.
Malam pun tiba,aku
duduk-duduk santai di depan teras menunggu kedatagan ka raffi aku sudah tidak
sabar untuk bercerita tentang sekolahku dan mendengar cerita darinya, tak
menunggu berapa lama kak raffi datang tapi dengan sosok perempuan yang belum
aku kenal “ hai zi, apa kabar?” sapa kak raffi,”hai kak, Alhamdulillah baik
kak” jawabku sambil memepersilahkan
mereka duduk di bangku kayu teras rumahku,”oh ya, kenalkan ini sania” kata kak
raffi,” sania” kata perempuan itu menjulurkan tangannya bersalaman denganku,
akupun menyambut tanngannya “ziya” kataku memperkenalkan namaku. Pikiranku pun
berkecamuk, bertanya-tanya siapa perempuan yang kak raffi bawa pulang untuk
berlibur “apakah pacarnya” itu pertannyaan yang perlahan muncul di benakku. “
eh nak raffi” suara ibu yang tiba-tiba berdiri di depanku sambil menyapa kak
raffi yang membuyarkan lamunanku, kak raffi pun bersalaman menyalami ibu sambil
menannyakan kabarnya, sania pun ikut menyalami ibuku sambil tertawa ramah
padanya, “ambilin minum dong zi tamunya” kata ibu padaku “iya bu, ya ampun ziya
hampir lupa” jawabku sambil tersenyum kecil, akupun bergegas masuk kedalam
rumah dan di susul langkah ibu. Kami pun ngobrol panjang lebar, sampai obrolan
kami pun harus terhenti karena malam sudah sangat larut.
***
07.00 WIB pagi yang
cerah, mentari seolah tersenyum menyambut pagi ini, semalam aku sudah janji
sama kak raffi akan mancing bareng. Aku pun masih sibuk membantu ibu di dapur
dan membereskan pekerjaan rumah ku tak terasa jam dingding dirumahku menunjukan
pukul 10.00 WIB, “assalamualaikum” terdengar suara kak rafi di depan halaman
rumahku “waalaikum salam “ jawabku dengan ibu berbarengan. Aku pun berangkat
bertiga dengan kak raffi serta sania, sesampainya di danau kami pun mulai asik
memancing, tiba –tiba ada sesuatu barang kak raffi yang ketinggalan dia pun bergegas
pulang untuk mengambilnya. Aku pun ngobrol dengan sania dan sampai pada
pernyataan sania kalau dia adalah kekasih kak raff.
Teryata perempuan itu
pacar kak raffi, begitu rapuhnya hati mendengarnya,tapi aku menahan air mata
yang berebutan memaksa jatuh dari kelopak mataku, aku mencoba tersenyum ikut
bahagia.
“ternya selama ini aku
salah paham sama perasaan kak raffi padaku, aku pikir dia menyayangi ku lebih
dari adik, aku pikir kak raffi tidak menyatakan cinta pada ku karna menunggu
sampai aku lulus sekola kemudian kuliah dan bekerja, sekarang dalam kepalaku hanya
ada kata “ akupikir”.
Bersambung...
By:
Lela Lisnawati